Menalar Puisi: Episode 4
Halo Semua, kembali lagi di sesi menalar puisi, kali ini di episode 4. Puisi ini berkisah tentang seorang yang tersadar akan cinta, cita kepada cintanya, serta doa-doanya selama ini yang telah ia haturkan ke sang maha. Coba kita telanjangi kembali baris per baris lalu bait per bait puisinya. Sebelumnya coba kita tilik dulu bentukan puisinya. SALAH MENAFSIR doaku, tersesat ke arah barat tanpa kusadari, temuku untuk pisah denganmu adalah takdir ditelannya aku ke titik nadir yang menjadikanku majir sungguh salah aku menafsir pesan dari gerak merah bibirmu di malam malam dusta anganku menjadikanmu jatukrama juga pohon betula namun kau sublimkan aku dan mencair bak api dibawah arunika sungguh telat aku menyadari matimu, adalah inginku yang tak pernah kusadari tak seharusnya ada makam dalam daksa juga sukma ini pun nama nama yang telah dihapus ilahi namun kurasa hanya aku yang terlalu diam menunggu lepas telanjang tubuhmu pada malam yang terlalu malam...