Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Menalar Puisi: Episode 3

 Di episode kali ini, kita kembali lagi ke menalar puisi bagian 3. Puisi ini ditulis dengan POV seorang prajurit yang kehilangan rekan seperjuangannya di medan perang. Tapi apakah puisi ini benar benar ditulis oleh seorang prajurit yang kehilangan rekannya? Atau bisa jadi puisi ini merupakan sebuah doa keiklasan dari seorang kekasih lama dari objek yang dituju. Mari kita telisik dulu puisinya  YANG HILANG DALAM LEGENDA Malam ini, api unggun tak sehangat biasanya  Anggur yang kuteguk pun terasa bak debu  Maka 'kan kuukir namamu di pelindung dadaku  Agar saat arunika menyibak kelambu  Ia tahu bahwa disini pernah ada seorang sahabat  Yang bertarung, lalu hilang dalam legenda Maka doaku, pergilah  Pergilah tanpa beban pun gentar  Jangan menoleh!  Kan kuingat kau bak sumpah seorang prajurit  Bukan sebagai kehilangan,  Tapi sebagai kehormatan yang abadi di antara kami @Fi17104 #puisi #poem #poetry Kalau kita telaah secara seksama, p...

Menalar Puisi: Episode 2

 Balik lagi di menalar puisi, kali ini di episode 2, disini kita coba menelisik apa sih maksud si penulis menulis puisi ini, dia cerita tentang apa sih pada puisi ini. Aku; Pramupintu Di hadapan mentari aku hanyalah pramupintu  tak berani melangkah melewati titik tolak;  batas batas  mendengarmu diikat mantra restu;  menatap punggungmu di ambang pintu;  cincin sombongmu menari di jarimu,  menyilaukan mataku dengan tawa yang tak perlu. @Fi17104 #puisi #poem #poetry  Secara umum, puisi ini menggambarkan kepedihan seseorang yang ditinggalkan, seorang  yang hanya menjadi saksi dari kepergian seseorang yang dicintai—seseorang yang kini telah terikat oleh janji lain. Mari kita telaah bait per bait: 1. "Di hadapan mentari / aku hanyalah pramupintu" Makna : "Mentari" bisa melambangkan terang, kenyataan, atau takdir yang tak bisa dihindari. "Pramupintu" menunjukkan seseorang yang hanya berdiri di ambang batas, tidak ikut masuk ke dalam peristiwa...

Menalar Puisi: Episode 1

Menalar puisi, dapat menjadi suatu yang asyik, karena kita bisa turut merasakan emosi penulis dalam puisinya. Berikut adalah contoh puisi yang coba gua racik buat sang puan yang pernah singgah di hati. Sublim di Hadapan Mentari Dalam keremangan ini, jadikan aku rantaumu Beranda sunyi, peredam pilu Namun bila arunika menyibak kelambu Pulanglah, bawa kita kembali ke asal semu Sebab yang terukir di ruang semu Tak lebih dari epitaf beku Sebagaimana hari yang lalu Hanya obituari masa yang rapuh Lepaskanlah warta hingga sirna Seperti lilin menyalakan fana Aku menyublim dalam gulita Tertinggal jejak, abunya hampa Pun renjana yang menyala di sini T’lah redup, membatu, tak bertepi Tak lagi namamu terbisik sunyi Aku mencair dalam api Di hadapan mentari yang tak peduli @Fi17104 #puisi #poem #poetry Menalar puisi ini: Bait 1 "Dalam keremangan ini, jadikan aku rantaumu Beranda sunyi, peredam pilu Namun bila arunika menyibak kelambu Pulanglah, bawa kita kembali ke asal semu...